GAGASAN YANG MELATARINYA

Di Balik Cerita “Rumah Bitha”
Tepatnya, sekitar pertengahan tahun 2012, saya bersama dua rekan seniman dari disiplin (seni rupa) dan (seni pertunjukan-teater) untuk menginisiasi sebuah proyek kesenian dengan tema “Keluarga-Berkeluarga”. Sejak saat itu obrolan dan berbagi cerita perihal “Keluarga-Berkeluarga” digulirkan, bersama beberapa pasangan keluarga kecil yang tinggal di Yogyakarta.

Berangkat dari refleksi atas sejarah dan kenangan atas keluarga, lalu saya memilih hal yang paling menarik untuk saya amati: perihal “hubungan” orang per orang di dalam keluarga. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang membicarakan perihal hubungan terutama dalam keluarga. Bermula dari yang paling dekat dengan saya—hubungan bapak-ibu yang “tidak baik-baik saja,” pertanyaan-pertanyaan tak terlontarkan perihal hubungan tanpa disadari (sudah) muncul sejak saya kecil. Pertanyaan seperti “Kenapa bapak tidak tinggal serumah dengan ibu dan saya?” kerap melintas di kepala karena rumah, buat saya, semestinya ada ibu dan bapak. Di ruang makan hanya ada saya dan ibu, dan rumah, menjadi teramat luas. Setelah itu, setelah banyak peristiwa yang berlangsung di dalam keluarga, saya dikenalkan pada istilah-istilah; ibu tiri, ibu kandung, bapak kandung, saudara tiri, isteri muda-isteri tua, adik tiri dan bapak tiri dari hasil pernikahan ibu,  serta dari hasil pernikahan bapak yang berkali-kali.

Saya memiliki kesenangan mengamati hubungan-hubungan di sekeliling saya (atau sekedar menjadi teman cerita seseorang tentang “rumah”nya), lalu mengumpulkan serpihan cerita-cerita. Sederhananya, saat ini saya ingin merangkai cerita-cerita yang dekat dengan keseharian saya dan yang terjadi—pada orang lain—yang saya temui di sekitar saya. Dan dari sanalah cerita “Rumah Bitha” ini dibuat. Ini perihal orang-orang yang berada di sebuah rumah, beserta hubungan-hubungan yang mengikatnya dan suatu rahasia di dalamnya. ***


Catatan Sutradara:
Secara personal, saya ingin bisa “ngobrolin” tentang keluarga. Kadang, buat sebagian orang (termasuk saya), membicarakan perihal keluarga tetangga sebelah lebih gampang daripada membicarakan keluarga sendiri. Dan kadang, seringkali kita lebih senang menampilkan bahwa “keluarga kita sedang dalam keadaan baik-baik saja,” dan menutup rapat-rapat rahasia keluarga di balik pintu rumah—karena akan menjadi “aib” jika terbuka.

Lewat film ini saya ingin bisa mengetuk pintu rumahmu dan masuk ke dalamnya—tidak lagi mengintip dari jendela rumah saya. Saya hanya ingin bertanya kabar dengan hangat, “Bagaimana keluargamu hari ini? Baik?”

Film ini bercerita tentang sebuah keluarga kecil kelas menengah yang tinggal di Yogyakarta. Dengan segala kompleksitas hubungan orang-orang yang ada di dalamnya, ia menyentuh hal yang paling dalam mengenai hubungan itu sendiri; dalam membentuk impian keluarga kecil yang bahagia, dan kenyataan sehari-hari yang tengah dijalani kini.


Sinopsis: “Rumah Bitha”
Sebuah keluarga kecil yang diangankan akan bahagia dan harmonis oleh Ata (30an tahun) dengan kehadiran suaminya kembali setelah dua tahun berpisah: Obit (musisi, 33 tahun), ayah bagi anak perempuannya: Bitha (8 tahun). Suatu hari, Marinah (nenek Bitha, 54 tahun) tiba-tiba berkunjung ke rumah. Seiring cerita bergulir, ia lalu menyentuh hal yang tidak sederhana yang selama ini disimpan rapi oleh Ata. Apakah ia akan membukanya?